Lebih Khawatirkan Anak Tidak Sarapan Dibanding Anak Terlambat Datang ke Sekolah!

  • Sabtu, 4 Maret 2017 06:00 WIB

Pentingnya Sarapan bagi Anak Sekolah

Intisari-Online.com – Apa sih sebenarnya sarapan itu? Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan sebelum pukul 09.00 untuk memenuhi 15 – 30 persen kebutuhan gizi harian sebagai bagian gizi seimbang dalam rangka mewujudkan hidup sehat, bugar, aktif, dan cerdas.

(Sarapan Jangan Asal Sarapan, Ada Kriteria Menu yang Mesti Kita Perhatikan)

Namun, ternyata masih banyak yang salah dalam memaknai arti sarapan tersebut, baik dari segi jumlah, jenis, dan waktu.

“Kalau hanya sarapan dengan segelas susu saja, itu masih kurang, apalagi hanya segelas teh manis atau kopi manis. Karena belum memenuhi kebutuhan gizi seimbang seperti yang telah disebutkan,” jelas Prof. Dr. Hardiansyah, MS., Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB.

Tambahkan dengan telur rebus, roti, buah, misalnya. Masih banyak alternatif sarapan yang bisa disediakan oleh Ibu bagi anak-anaknya yang masih sekolah. Contoh menu lain untuk sarapan, misalnya, roti, telur mata sapi plus sayuran, atau nasi goreng, telur dadar plus sayuran, sereal, susu plus buah.

(Sebelum Sarapan, Baiknya Mengonsumsi Minuman Ini Supaya Racun dalam Tubuh Kita Hilang)

Masih banyak anak-anak sekolah, terutama di perkotaan, seringkali tidak sarapan. Alasan yang sering dilontarkan oleh orangtua, terutama ibu, adalah sulitnya membangunkan anak, sulit mengajak anak sarapan, sulit meminta anak menghabiskan sarapan, serta khawatir anak terlambat sekolah bila harus sarapan dulu.

Kalaupun anak-anak sekolah itu sarapan, dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, ternyata 23,7% hanya sarapan dengan karbohidrat dan minum, sementara 44,6% sarapan dengan kualitas yang rendah.

Dengan sarapan, anak-anak sekolah akan lebih baik dalam konsentrasi belajarnya, lebih baik dalam stamina, lebih baik status gizinya, jarang mengeluh pusing dan sakit, lebih disiplin, lebih cerdas dan lebih baik nilai rapornya serta tercegah dari risiko obesitas. (*)

Sumber : []

Reporter : K. Tatik Wardayati
Editor : K. Tatik Wardayati

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×