[Cerita Kriminal] Membunuh Demi Nafsu Berbelanja

  • Kamis, 9 Maret 2017 19:40 WIB

Membunuh demi nafsu belanja | Intisari

Intisari-Online.com - Siang hari, 10 Maret 1994. Toko barang antik dan bingkai lukisan di sisi jalan utama Trading Post, Lake Elsinore, California, terlihat lengang kala seorang perempuan berambut pirang usia pertengahan tigapuluhan melangkah masuk ke dalam toko.

Sang penjaga toko, perempuan 57 tahun bernama Dorinda Hawkins yang bekerja paruh waktu di situ, mengamati gerak-geriknya dari balik meja kasir.

Seperti juga kebanyakan pengunjung toko, si perempuan pirang terlihat berjalan perlahan mengelilingi ruangan sambil meneliti beberapa barang antik. Dorinda hanya melirik sesekali dan tak menaruh sedikit pun rasa curiga. Adalah hal yang biasa bagi dia melihat pengunjung masuk dan keluar lagi dari toko tanpa membeli satu barang pun.

Lagipula, memang tak banyak orang yang tertarik berbelanja di tempat seperti itu selain kolektor barang antik, bukan?

Dorinda tetap tak curiga saat si rambut pirang minta diantar ke bagian belakang toko yang berfungsi sebagai bengkel pembuatan bingkai lukisan. Ia sedang memperlihatkan beberapa contoh bentuk bingkai saat tiba-tiba merasa ada sesuatu yang dingin melingkari lehernya.

Spontan ia menoleh ke belakang dan mendapati si perempuan berambut pirang sedang menarik sekuat tenaga seutas tali kuning berbahan nilon untuk mencekik dirinya.

Merasa nyawanya terancam, Dorinda mulai berusaha melepaskan diri. Ia menarik kuat-kuat tali kuning yang mencekiknya sambil sebisa mungkin menghirup udara agar tak kehabisan napas. Namun rupanya tenaga si rambut pirang lebih kuat sehingga kaki Dorinda lemas dan dia pun jatuh berlutut dengan napas tersengal.

Cara si rambut pirang beraksi dan ketenangan emosinya membuat Dorinda menduga bahwa ini bukanlah penyerangan pertama yang dilakukannya. Ia bahkan sempat membujuknya untuk tenang saat Dorinda berusaha berteriak minta tolong dan mengatakan bahwa ia datang tidak untuk merampok toko.

Tapi kata-kata itu malah menyebabkan Dorinda makin ketakutan dan tak berdaya, sebab itu berarti perempuan itu betul-betul datang untuk menghabisi nyawanya.

Bukan korban pertama

Sumber : []

Reporter : Moh. Habib Asyhad
Editor : Yoyok Prima Maulana

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×