Gempa Aceh: Empat Jam Terkurung Reruntuhan, Nisa Hanya Andalkan Sinar Ponsel

  • Rabu, 7 Desember 2016 17:02 WIB

Nisa Karya setelah bisa keluar dari reruntuhan dan mendapat perawatan petugas medis. | Serambinews.com

Intisari-Online.com - Tiba-tiba rumah digoncang dan runtuh. Tak ada yang bisa diperbuat Nisa Karya (27), warga Rambong Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya (Abdya), karyawan SPBU Ulee Gle, Bandar Dua, Pidie Jaya, ketika gempa berkekuatan 6,4 magnitude menggoyang Aceh, Rabu (7/12/2016) subuh. Ia hanya bisa terbaring dalam reruntuhan selama 4 jam, sambil berdoa dan berharap akan ada pertolongan.

Kepada Serambinews.com di Musalla SPBU Ulee Gle, Nisa mengatakan, saat gempa terjadi dirinya berada di lantai dua warung kopi di samping SPBU. Bahkan ia mengaku sadar saat bangunan roboh serta menangis sembari berteriak minta tolong.

“Alhamdulillah saya selamat dan berhasil menyelamatkan handphone dan beberapa pakaian,” katanya dengan nada terbata-bata.

Menurut Nisa, saat dirinya terkurung dalam reruntuhan bangunan, ia hanya merasakan sekeliling gelap gulita. Dia sendiri terkurung dalam reruntuhan bangunan dengan kondisi terbaring. Hanya cahaya ponselnya yang menjadi penerang.

“Ketika hari sudah pagi atau mulai terang, saya melihat ada cahaya dari luar. Lalu saya merayap sambil mencari sumber cahaya dan berusah keluar, sembari minta tolong dari warga yang ada diluar,” kata Nisa.

Setelah sempat terkurung selama empat jam yaitu mulai pukul 05.00 pagi pasca gempa, baru pada pukul 09.00 WIB, Nisa berhasil keluar dari reruntuhan bangunan tersebut. namun ia tidak ikut dievakuasi ambulan.

Nisa lebih memilih beristirahat di Musalla SPBU Ulee Glee. Baru sekitar pukul 14.00 WIB ia mendapat pertolongan dari medis, karena kaki kiri dan bahunya luka-luka lecet.

Sumber : []

Reporter : Hery Prasetyo
Editor : Hery Prasetyo

Tags :

#gempa aceh

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×