Pertempuran Iwo Jima, Medan Perang Brutal Terburuk Bagi Sejarah Peperangan Marinir Amerika dalam Perang Dunia II

  • Rabu, 14 Februari 2018 06:00 WIB

Suasana heroik pengibaran bendera AS di Iwo Jima | Joe Rosenthal/USMC | www.en.wikipedia,org

(Baca juga: Bagi Ilmuwan NASA, Meletusnya Gunung Agung adalah Berita Bahagia Bagi Kehidupan Umat Manusia)

Petang hari, pasukan marinir akhirnya berhasil sampai ke kaki Suribachi sesudah bertempur mati-matian menghancurkan pertahanan musuh satu demi satu dengan semburan api, bahan peledak, tembakan, bayonet dan lain-lainnya.

Esok harinya mereka mulai merayap dan membakar lubang-lubang Jepang dengan berdrum-drum bensin.

Pada hari ketiga, tinggal sekitar 300 prajurit Jepang di dalam gunung dan tidak mungkin mempertahankannya lagi.

Dengan dipimpin seorang letnan AL mereka bermaksud melapor kejatuhan Suribachi kepada Jenderal Kuribayashi.

Mereka bertemu dengan seorang kapten AL Samaji Inouye yang masih amat “tradisionalis”.

Ia marah besar dan menganggap mereka pengecut dan desersi. Ia pun menghunus pedangnya, siap memancung letnan yang telah berlutut menerima nasibnya itu.

Namun belum sempat pedang mengayun, anak buah Inouye serentak merebut pedang itu. Inouye pun lalu terguguk menangis meratapi jatuhnya Suribachi.

(Baca juga: Peringatan untuk Ibu! Bayi Ini Meninggal Dunia Diduga Tersedak Setelah Diberikan Minum Susu dengan Botol yang Disangga)

Sementara itu pada hari keempat invasi, Letkol Chandler Johnson, komandan batalion-2 Marinir ke-27 dari Divisi ke-5 memerintahkan anak buahnya  mengibarkan bendera AS di puncak Suribachi, di dekat kawah.

Reporter : Agustinus Winardi
Editor : Moh Habib Asyhad

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×