Nyai dan Kiai Slamet, Kerbau Sakti dari Surakarta yang Kutunya pun Diburu karena Dianggap Ikut Punya Kesaktian

  • Selasa, 13 Februari 2018 15:30 WIB

Kerbau bule keturunan Kyai Slamet | perpusnas

Mereka dianggap tak pernah mati. Kalau mati, mereka selalu menitis pada  keturunan-keturunannya. Karenanya, walau sudah puluhan generasi  berlalu sejak Kiai dan Nyai Slamet yang pertama, mereka tetap ada.

Menurut Sukirman, yang mewarisi pekerjaan sebagai penjaga kerbau keraton dari mertuanya, pada keturunan yang mana Kiai dan Nyai Slamet menitis, mimpilah yang menentukannya. Yang bermimpi bisa siapa saja, ia sendiri atau orang lain.

 

Kutunya pun dicari

Bagi yang tak tahu, kawanan  kerbau keraton ini bisa disangka kerbau biasa saja. Kecuali kulit yang bule atau belang-belang putih-kelabu, mereka juga doyan rumput dan gemar berkubang di lumpur, persis seperti kerbau-kerbau lainnya.

Namun, menurut Mas Sukirman, kalau diperhatikan benar-benar, Kiai Slamet dan keluarganya lain dari kerbau yang lain. Kerbau-kerbau ini, terutama Kiai Slamet, penampilannya lebih berwibawa. Entah apa maksudnya.

Seperti mengerti akan status istimewa mereka, kerbau-kerbau  keraton yang betina hanya mau dikawini oleh kerbau jantan dalam kelompok mereka saja. Mereka ogah bercinta dengan  kerbau jantan kampung biasa.

Sebaliknya, kerbau-kerbau  jantannya, yang jumlahnya dua ekor, mau saja kawin dengan betina kampung. Karena dianggap bisa membawa berkah, para pemilik kerbau betina senang saja kalau peliharaan mereka dikawini Kiai Slamet.

Meski sehari-hari diumbar begitu saja dan berkelana seenaknya di seputar Kota Solo, rombongan Kiai Slamet tak pernah diganggu atau hilang dicuri orang.

Memang pernah sekali waktu seorang abdi dalem keraton mencoba menggiring Kiai Slamet ke Pasar Pedan untuk dijual, tapi gagal karena keburu ada yang mengenalinya.

Reporter : K. Tatik Wardayati
Editor : Ade Sulaeman

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×