Inilah Alasan Kita Tak Lagi Memesan Steak dengan Kematangan Well Done

Inilah Alasan Kita Tak Lagi Memesan Steak dengan Kematangan Well Done

  • Editor : Ade Sulaeman
  • Monday, 05 October 2015
  • 02:30 pm

Saat memesan menu steak, biasanya pramusaji akan bertanya tentang tingkat kematangan daging yang dikehendaki oleh konsumen. Di Indonesia, sebagian besar konsumen biasanya akan memesan daging dengan tingkat kematangan well done. Ternyata, ada baiknya jika Anda tak lagi memesan steak dengan kematangan well done, mengapa?

Intisari-Online.com - Anda yang merupakan penikmat kuliner pasti mengenal hidangan "steak." Hidangan berbahan dasar daging, baik daging sapi, daging ayam, maupun daging ikan ini sudah cukup populer di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya restoran yang khusus menyajikan steak atau populer di sebut steakhouse.

Saat memesan menu steak, biasanya pramusaji akan bertanya tentang tingkat kematangan daging yang dikehendaki oleh konsumen. Di Indonesia, sebagian besar konsumen biasanya akan memesan daging dengan tingkat kematangan well done

Ternyata, ada baiknya jika Anda tak lagi memesan steak dengan kematangan well done, mengapa?

"Orang banyak berpikir bahwa daging yang dimasak well done aman. Selain itu, mereka takut melihat darah kalau tingkat kematangannya tidak sempurna. Padahal kalau well done, juice-nya akan berkurang karena terbakar dan daging sudah mulai mengeras," ungkap Budhy Soeryo, Direktur Operasional Outback Steakhouse pada acara Steakopedia yang dihelat Kompas Female, Selasa (29/9/2015).

Budhy menjelaskan, tingkat kematangan daging akan mempengaruhi tekstur. Jadi, apabila daging dimasak hingga mencapai tingkat kematangan well done, lanjut dia, maka teksturnya sudah hilang karena sudah terserap ketika dibakar atau dipanggang. Alhasil, daging yang disantap sudah tidak ada juice atau elemen cair yang membuatnya empuk. Selain itu, daging pun akan mengeras.

Lalu, apa saja tingkatan kematangan daging yang dikenal dalam dunia kuliner? Budhy menjelaskan, ada enam tingkatan kematangan. Pertama adalah blue rare, yakni tingkat kematangan daging mencapai 10 persen. Bagian yang matang hanya lapisan tipis terluar, sehingga boleh dikatakan daging masih sebagian besar mentah.

Selanjutnya adalah rare, yakni di mana kondisi daging masih 75 persen mentah di bagian tengahnya. Sementara itu, medium rare adalah ketika daging dimasak setengah matang atau 50 persen masih mentah di bagian tengah. Tingkat kematangan medium adalah ketika daging dalam kondisi 25 persen mentah di bagian tengahnya.

"Tingkat kematangan medium well itu cukup baik, hanya sedikit bagian yang masih mentah di dalam. Kalau sudah medium well masih bagus, tapi sudah mendekati keras. Kalau well done itu 100 persen matang, tapi juice sudah tidak ada dan otot daging sudah mengeras. Teksturnya juga sudah tidak ada," jelas Budhy.

(Sakina Rakhma Diah Setiawan/kompas.com)

Author :

Ade Sulaeman

Cyclist

Journalist

Sherlockian

 

Komentar

Berita Terkait

Bikin Paspor Harus Punya Tabungan Rp25 Juta, Ini

Selain itu, bagi pemohon yang akan melakukan perjalanan ke

Jadi Kota dengan Kualitas Hidup Terbaik, Inilah yang

Wina baru saja ditetapkan sebagai kota dengan kualitas hidup

Surga Bawah Air Indonesia yang Telah Diakui Dunia:

Dirangkum CNN Indonesia, berikut ini ulasan taman nasional

Tak Tahan dengan Bau Prengus Kambing? Begini Cara

Salah satu kesulitan mengolah daging kambing adalah

Berita Lainnya

20 Tahun Kesetiaan Yu Ngatmini Pada Brambang Asem

Makanan khas yang sudah mulai langka ini bisa diperoleh di

Di Balik Kematian Marilyn Monroe

Perdebatan kematian bintang film Marilyn Monroe sedikit

Bakso Jumbo Ini Punya Berat 2 Kg karena ‘Hamil’ dan

Bakso hamil berbeda dengan bakso pada umumnya karena

Bebek? Nikmatilah di Tepi Sawah

Soal bebek Bali memang sudah kadung terkenal Bebek Bengil di