Kekerasan di STIP: Kekerasan Bikin Otak Anak Menciut

  • Kamis, 12 Januari 2017 11:31 WIB

Kekerasan Bikin Otak Anak Menciut

Intisari-Online.com - Kekerasan kembali terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Kali ini giliran Amirullah Adityas Putra (18) yang menjadi korban hingga harus kehilangan nyawa.

(Kasus-kasus Kekerasan di STIP dalam 10 Tahun Terakhir)

Kekerasan, dalam bentuk apa pun pada dasarnya tidak dibenarkan. Korban bisa saja selamat dari kematian atau sekilas "hanya" meninggalkan memar di sekujur tubuhnya. Namun, ada efek lain yang jauh lebih berbahaya, yang tidak terlihat secara kasat mata, yaitu otaknya menciut.

Otak seorang anak, yang sedang dalam masa pertumbuhan, sangat mudah terpengaruh lingkungan. Termasuk dalam hal ini adalah pengaruh yang berasal dari hal-hal yang buruk seperti kekerasan yang dilakukan orang tua atau lingkungannya.

(Taruna STIP Tewas Dipukul Seniornya: Pertolongan Pertama pada Kasus Trauma Tumpul)

Akibat dari pengaruh buruk ini, otak anak mengalami penyusutan volume terutama pada bagian hipokampus (mempengaruhi memori dan navigasi ruangan). Penyusutan inilah yang menjadi salah satu penjelasan kenapa seorang anak yang mengalami masalah cenderung akan berperilaku menyimpang psikogenik lanjutan. Contohnya depresi, ketergantungan obat, bahkan masalah kesehatan mental.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard ini menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk memindai 193 individu yang berusia 18 - 25 tahun. Ke-193 individu ini sebelumnya menjalani beberapa tes untuk melihat riwayat kehidupannya. Kemudian para peneliti menganalisis ukuran dari area hipokampus dan membandingkannya dengan riwayat responden.

Hasilnya menunjukan bahwa bagian tertentu dari hipokampus responden yang mengalami masalah semasa kecilnya (berupa kekerasan) mengalami penyusutan ukuran sekitar 6 persen dibandingkan mereka yang tidak mengalami penyimpangan.

Bagian lain yang mengalami penyusutan adalah subiculum, yang menghantarkan sinyal dari hipokampus ke area lain di otak, termasuk di antaranya sistem dopamin (yang aktivitasnya mempengaruhi rasa bahagia dan nyaman). Penyusutan ini berkorelasi dengan penyalahgunaan obat-obatan dan skizofrenia.

Eksperimen juga dilakukan pada binatang, termasuk pada primata (tidak termasuk manusia). Ternyata penyusutan hipokampus memang terjadi ketika mereka diberi paparan hormon stres kortisol, baik ketika mereka berusia 3-5 tahun ataupun 11-13 tahun. Akibat lebih lanjutnya adalah berhentinya pertumbuhan saraf dari hipokampus.

Jadi,  berhentilah melakukan kekerasan pada anak.

Sumber : ["livescience.com"]

Reporter : Ade Sulaeman
Editor : Ade Sulaeman

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×