Nepal Mencoba Menentang Aturan Adat Bagi Perempuan

  • Jumat, 11 Agustus 2017 17:30 WIB

Adat kuno di Nepal 'membuang' wanita yang menstruasi atau habis melahirkan. | aljazeera.com

Intisari-Online.com - Parlemen Nepal telah "melawan" sebuah praktik Hindu kuno yang disebut chhaupadi yang mengusir wanita dari rumah selama menstruasi dan setelah melahirkan.

"Seorang wanita selama menstruasi atau pascamelahirkan tidak boleh dirawat di chhaupadi atau diperlakukan dengan diskriminasi serupa atau perilaku yang tidak tertata oleh aturan dan tidak manusiawi," demikian bunyi undang-undang tersebut, yang diterima dengan suara bulat pada hari Rabu (9/8/2017).

Undang-undang baru, yang akan mulai berlaku dalam waktu satu tahun, menetapkan hukuman penjara tiga bulan atau denda 3.000 rupee (sekitar Rp390.000), atau keduanya, bagi siapa pun yang memaksa seorang wanita untuk mengikuti kebiasaan tersebut.

Mohna Ansari, anggota komisi nasional hak asasi manusia yang merupakan bagian dari undang-undang baru tersebut, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perkembangan tersebut merupakan "prestasi besar".

"Undang-undang tersebut memberi ruang terbuka bagi wanita untuk maju jika mereka dipaksa mengikuti praktik tersebut. Ini adalah kebiasaan yang membuat wanita merasa terisolasi dan mendapat tekanan psikologis," katanya.

(Baca juga: Ke Nepal dengan Rp6 Juta?)

"Mahkamah Agung memutuskan melawan chhaupadi 12 tahun yang lalu, tapi itu tidak efektif karena hanya mengeluarkan pedoman, tapi juga mengarahkan bahwa jika pedoman tersebut tidak efektif, seharusnya ada undang-undang yang disahkan melawan chhaupadi. Jadi itulah yang terjadi sekarang."

Tapi aktivis hak asasi perempuan Pema Lhaki menjelaskan bahwa undang-undang tersebut tidak dapat diterapkan karena terkait dengan sistem kepercayaan yang mengakar dan sulit untuk diubah.

"Ini adalah kekeliruan bahwa pria yang membuat wanita melakukan ini Ya, masyarakat patriarkal Nepal berperan, tapi wanita sendirilah yang membuat diri mereka mengikuti chhaupadi," katanya kepada kantor berita AFP.

"Mereka perlu memahami akar permasalahannya, memiliki intervensi strategis dan kemudian menunggu satu generasi."

Sumber : aljazeera.com

Reporter : Agus Surono
Editor : Agus Surono

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×