Menuliskan Surat Manis untuk Nenek Tersayang

Reporter : Lila Nathania
Editor : Hery Prasetyo

Surat seorang nenek

Intisari-Online.com – Nenekku yang sudah berumur belum lama ini mengalami masalah kesehatan yang cukup parah. Ia sudah sulit melihat dan berjalan. Kegiatan sehari-harinya lebih banyak di dalam rumah saja. Hal ini tentu membuatnya frustrasi karena dulu nenek sangat suka membaca. Maka, aku pun bersedia menuliskan surat manis untuk nenek tersayang, ketika dia memintaku untuk berkorespondensi dengani teman-temannya.

Dulu saat aku masih bekerja di luar kota, aku sering berkirim surat dengan nenek. Kini setelah aku tinggal serumah dengannya, tentu kami tak pernah berkirim surat lagi. Sore itu ketika aku sedang menyiapkan air mandi untuknya, nenek memanggilku.

“Dini, bolehkah nenek meminta tolong sesuatu?” begitu katanya. “Tentu saja boleh, ada apa nek?” tanyaku sambil merasa heran karena jarang-jarang nenek berkata seperti itu. “Nenek sudah beberapa hari ini ingin mengirimkan surat ke teman-teman nenek. Tapi, seperti yang kamu tahu, nenek sudah kesulitan menulis sendiri. Maukah kamu membantu menuliskan surat untuk teman-teman nenek?”

Sejak hari itu, aku menjadi sekretaris pribadi nenek dalam hal surat-menyurat. Aku berpikir tugas ini akan mudah saja dilakukan, namun ternyata ada beberapa kendala yang terjadi. Nenek rupanya sedikit rewel soal surat menyurat.

Misalnya saat mengirim surat untuk teman A, ia hanya mau memakai kertas surat berwarna biru. “Amira ini sangat suka laut. Aku harus mengiriminya surat dengan kertas dan amplop biru,” begitulah penjelasannya. Kadang juga untuk teman B, ia mewanti-wanti aku untuk membalas dengan tinta biru. “Marina ini sangat benci hitam! Jangan sampai dia menganggap aku sedang berkabung!” itulah ocehannya kali ini.


Sumber : []

Reporter : Lila Nathania
Editor : Hery Prasetyo

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×