Membaca Bahasa Tubuh yang Tak Terucapkan

  • Kamis, 8 Februari 2018 11:00 WIB

Ilustrasi.

Intisari-Online.com – “Kita ‘kan sudah seperti kakak-adik. Mana mungkin aku tega merugikan kamu?” bilang Lutfi kepada Tirta di hadapannya.

Tetapi matanya menerawang jauh dan kedua lengannya dilipat di depan dada.

Tirta ingin sekali percaya. Matanya menatap lekat-lekat wajah Lutfi.

“Ya Lut. Cuma, margin 2,5% itu akan termakan oleh biaya operasional.”

BACA JUGA: Anak Miliarder Ini Disuruh Ayahnya Jadi Orang Miskin, Hanya Dibekali Uang Rp100 Ribu

Lutfi kini memandang langsung Tirta; kedua tangannya dilipat di depan wajah dengan siku bertumpu di atas meja.

“Zaman sekarang, dalam kondisi industri sedang lesu, 2,5% sudah bagus sekali. Terserah kamu sajalah. Aku sudah memikirkan yang terbaik untuk kamu.”

Tirta akhirnya bangun perlahan. Kedua bahunya lemas, “Sori, aku join lain kali saja.”

Ia beranjak keluar ruangan dengan langkah perlahan seperti prajurit kalah perang. 

BACA JUGA: Jalan Sunyi Jenderal Hoegeng, Jalannya Para Pemberani

Reporter : intisari-online
Editor : Yoyok Prima Maulana

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×