Dialah Mata Hari yang Bernasib Tragis, Penari Eksotis yang Terkenal sebagai Mata-mata Perempuan Terbesar Selama Perang Dunia I

  • Senin, 11 September 2017 10:00 WIB

Kisah Dramatis Mata Hari, Penari Eksotis yang Terkenal sebagai Mata-mata Perempuan Terbesar Selama Perang Dunia I

Intisari-Online.com - Bagi para pembaca karya sastra Indonesia, Mata Hari mungkin bukan nama yang asing.

Sastrawan Remy Silado secara khusus memfiksikan kisah dramatis Mata Hari secara berseri di Harian Kompas—yang kemudian dibukukan dalam judul Namaku Mata Hari.

Ia merupakan penari yang juga terkenal sebagai mata-mata perempuan terbesar selama Perang Dunia I.

(Baca juga: Pilot Pesawat Mata-mata AS Juga Dibekali Racun yang Siap Ditenggak Jika Mereka Tertangkap)

Mata Hari lahir di Belanda pada 1876 dengan nama Margaretha Geertruida Zella. Ia menikah dengan seorang kapten tentara kolonial Belanda—akrab disebut KNIL—ketika berusia 18 tahun.

Pada 1897, ia ikut pindah suaminya ke Pulau Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Di sana mereka memiliki dua orang anak.

Dalam novel Namaku Mata Hari, suami Zelle digambarkan sebagai sebagai pemabuk kelas kakap, yang kasar dan pemarah.

Kondisi ini membuatnya tidak bahagia. Untuk mengalihkan pederitaannya, Zelle menyibukkan diri dengan belajar kebudayaan Jawa, termasuk tari.

Semakin lama, pernikahan Zelle semakin memburuk, dan setelah kembali dari Belanda, pasangan ini memutuskan berpisah pada 1902.

Zelle pindah ke Paris. Di sana ia bekerja di sebuah rumah sirkus, ia juga menjadi model dan penari eksotis, dan membuat nama panggung: Mata Hari.

Reporter : intisari-online
Editor : Moh Habib Asyhad

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×