Hanya 17 persen Generasi Milenial di Jakarta yang Mampu Membeli Rumah

  • Rabu, 14 Desember 2016 19:35 WIB

Ingin Membeli Rumah? Coba Cek Gaji Anda di Salary Benchmark 2.0 Milik Karir.com

Intisari-Online.com- Di era sekarang, masyarakat lebih mengutamakan travelling atau jalan-jalan daripada membeli properti seperti rumah. Terutama bagi mereka Generasi Milenial yang lahir tahun 1981-1994. Dengan sifat seperti itu, menurut data, hanya 17 persen Generasi Milenial di Jakarta yang mampu membeli rumah.

Data ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Karir.com bersama Rumah123.com. Diambil dari 20.853 sampel dengan 8.510 responden yang tinggal di area Jabodebatek. Hasilnya hanya 17 persen profesional yang mampu membeli rumah.

“Itu juga yang didapat adalah rumah seharga 300 jutaan. Masalahnya di mana rumah seharga 300 jutaan di Jakarta ini?,” kata Dino Martin, CEO Karir.com dalam sebuah press conference di daerah Jakarta Selatan.

Bahkan menurut Dino harga rumah hunian di Jakarta diprediksi semakin meningkat. Sekitar 150 persen pada lima tahun mendatang. Padahal jika dirata-rata kenaikan gaji yang bisa diterima karyawan hanyalah 60 persen saja. “Oleh karena itu, pentingnya di masa-masa sekarang karyawan sudah memikirkan membeli rumah,” jelasnya.

Hal senada ditambahkan oleh Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung bahwa Generasi Milenial harus mulai dari sekarang mencicil rumah. “Membeli rumah itu harus dipaksakan. Lakukan apapun agar uang yang dimiliki mampu membeli rumah,” ungkapnya.

Untuk membantu mereka para Generasi Milenial, Karir.com dan Rumah123.com merilis fitur perhitungan gaji dengan Kalkulator KPR yaitu Salary Benchmark 2.0. Dengan fitur ini, profesional bisa melihat apakah gaji yang diterima sekarang sudah cukup atau malah kurang untuk mencicil rumah. Menariknya lagi, fitur ini memberikan rekomendasi posisi-posisi terbaik jika Anda ingin meraih performa terbaik.

Menurut Dino, sampai saat ini Minyak dan Gas Bumi masih memberikan gaji tertinggi di Indonesia. Namun bukan berarti pekerjaan lain tidak. “Dengan hadirnya Salary Benchmark 2.0 ini kita bisa menilik apakah profesi yang digeluti sekarang bisa menawarkan jenjang karir yang mumpuni. Jika tidak, mungkin bisa mencoba peruntungan di industri lain,” kata Dino.

Fitur Salary Benchmark 2.0 ini dapat diakses di laman www.karir.com/salary.

Sumber : []

Reporter : Mentari Desiani Pramudita
Editor : Ade Sulaeman

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×