Kiat Melindungi Anak dari Pengaruh Negatif Gadget

  • Sabtu, 12 Maret 2016 14:00 WIB

Kiat Melindungi Anak dari Pengaruh Negatif Gadget

Intisari-Online.com - Di zaman serba teknologi seperti sekarang ini, sudah hal yang wajar terjadi apabila semua orang, mulai dari anak-anak hingga mereka yang berusia lanjut sekalipun menggunakan gadget yang terkoneksi ke internet. Pada anak-anak, trennya bahkan lebih meluas hingga tidak ada lagi rasa janggal saat melihat anak-anak sangat ‘menempel’ dengan gadget.

Kegiatan yang menggunakan gadget canggih pun sangat beragam dan rata-rata disukai anak-anak, mulai dari bermain games hingga berlama-lama di media sosial. Di satu sisi, hal ini berarti generasi anak zaman sekarang lebih melek teknologi dan lebih cerdas serta mudah menyesuaikan diri dengan hal yang dahulu dianggap rumit. Namun di sisi lain, hal ini berarti teknologi telah mengambil alih gaya hidup masa kini dan punya potensi merusak yang lebih tinggi saat disalahgunakan.

Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh Kaiser Family Foundation menemukan bahwa anak-anak yang duduk di bangku sekolah menghabiskan sekitar 7 ½ jam per hari di depan televisi, komputer, smartphone atau gadget canggih lainnya dan angkanya semakin bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan, anak berusia 2 tahun sanggup belajar membaca dengan sering melakukan browsing.

Hal yang positif meskipun sudah disarankan oleh para ahli untuk tidak dilakukan adalah mengekspos anak terlalu banyak pada gadget. Bagi orang tua sendiri, anak yang terekspos gadget dapat bermain tanpa menimbulkan tempat berantakan yang membuat orang tua lebih repot membersihkan. Selain itu, berbagai aplikasi yang sifatnya edukatif juga telah tersedia sehingga anak masih dapat belajar.

Di lain sisi, terdapat studi yang sudah membuktikan bahwa terlalu banyak penggunaan gadget pada anak-anak dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi di sekolah, obesitas, ketidakmampuan untuk berinteraksi di dunia nyata, imajinasi yang terbatas, kemampuan akademik yang rendah serta sikap yang agresif. Gadget yang menggantikan permainan zaman dulu yang tujuannya menstimulasi pembelajaran dalam diri anak malah dapat menjadi batu sandungan. 

Meski sudah berusaha membatasi waktu yang dihabiskan oleh anak bermain gadget, namun dampaknya, baik positif maupun negatif, tetap hadir. Perkenalan anak pada teknologi pun menjadi krusial. Orang tua perlu menyiasati cara agar lebih banyak dampak positif yang diterima oleh anak dengan penggunaan gadget dibandingkan dengan dampak negatifnya.

1. Perbanyak tayangan dan aplikasi yang sifatnya mendidik atau yang jika dimainkan atau disaksikan akan memicu anak untuk aktif terlibat.
Orang tua dapat men-download-kan aplikasi yang mengajak anak berpikir serta memecahkan masalah dan tidak hanya bersifat hiburan semata. Efek pembelajaran yang ditimbulkan oleh aplikasi dan tayangan edukatif dengan pembelajaran melalui buku sebenarnya sama, ungkap dr. Ellen Wartella, Ph.D., Profesor Komunikasi dan Psikologi dari Northwestern University di Evanston, Illinois, US. Dengan demikian, anak juga mengalami perkembangan kognitif, bahkan terpacu untuk lebih banyak membaca serta mendapatkan nilai yang bagus di sekolah.

2. Kontrol isi gadget.
Bukan teknologi yang berbahaya bagi anak, namun apa yang dilakukan dengan ketersediaan teknologi tersebut. Cara orang tua mengenalkan anak pada teknologi dan gadget harus menyertakan kontrol soal waktu, kesiapan usia anak, serta pembentukan hal-hal yang boleh dilihat dan didengar oleh anak melalui gadgetnya. Terlibatlah secara langsung dalam permainan di gadget anak serta diskusikan apa yang anak saksikan di gadget-nya.

3. Buat gadget menjadi alat pembelajaran yang asyik dan interaktif.
Salah satu caranya adalah dengan menghentikan video atau permainan yang sedang dimainkan dan disaksikan anak bersama dengan Anda serta menanyakan pertanyaan yang memicu daya imajinasi anak. Menurut direktur dari Children’s Media Lab di University of Pennsylvania, memilih aplikasi dan menggunakannya secara tepat, maka gadget dapat membantu meningkatkan kemampuan kognitif dan matematika anak.

4. Lindungi anak dari konten seksual dan kekerasan.
Pada anak-anak berusia pra-sekolah, penting bagi orang tua untuk melindungi anak dari ekspos terhadap gambar-gambar yang mengandung konten seksual atau kekerasan karena anak-anak yang lebih muda masih sulit membedakan kenyataan dan fantasi. Anak-anak yang diekspos terhadap konten yang tidak sesuai usia sangat mungkin meniru apa yang dilihatnya.

5. Edukasi dan dampingi anak secara langsung.
Berikan penjelasan mengenai hal-hal yang anak lihat di internet dan mengenai berbagai iklan yang muncul di situs yang dibuka anak. Ajari sisi positif internet yang memungkinkan anak menambah wawasan dan mencari jawaban dari pertanyaan ilmiah yang ingin diketahuinya. Memastikan bahwa anak tahu bagaimana caranya menggunakan gadget dan komputer serta internet akan menambah kepercayaan diri anak di bidang akademis.

Reporter : MeetDoctor
Editor : MeetDoctor

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×